3 Mei 2014

“DOA”


Hari ini, saya hanya ingin menulis “ulang” sebuah “Doa” yang pernah saya tuliskan bersama istri saya ketika kami masih “pacaran”..... Dulu “DOA” ini saya print di selembar kertas.. lalu ditambahkan foto saya dan istri (waktu masih pacaran... tentunya..) lalu diberi pigura.... dan sampai saat ini setelah kami menikah 9 tahun lebih... “DOA”-nya masih tersimpan rapih di pigura.... Ya...ya... boleh dikatakan ini sebuah “DOA” nostalgia.... hehehe....
----------
Ya Tuhan.....,
Bimbinglah kami
Dalam perjalanan
Cinta kami,...

Didiklah kami agar
Kami menjadi bijak
untuk saling
mengasihi.

Kami tahu,
kadang ada kerikil
yang harus kami lalui..., bahkan
kamipun sadar....

Ada badai yang
menghalangi
langkah Cinta kami.

Hari ini,...
Jika kami masih
Mampu
Menempuh tapak
cinta,

itu hanya karena
ENGKAU berjalan
Dan menaungi kami
Dengan KASIH-MU.

Ajarlah kami
Mencintai seperti
Cinta-MU yang
Penuh
Pengorbanan.
---------

Hmmmm selamat ber-DOA.....
Faith and Prayer both are invisible...
But they make impossible things... possible !!!!

vzp@home-030514

2 Mei 2014

“TUT WURI HANDAYANI”

Hari ini kita memperingati “HARDIKNAS” atau “Hari Pendidikan Nasional”... “HARDIKNAS” dirayakan setiap tanggal 2 Mei... diambil dari hari lahir Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara... Beliau lahir di Yogyakarta tanggal 2 Mei 1889 dan wafat pada tanggal 26 April 1959 di Yogyakarta... Seperti yang tertulis di “wikipedia”... Beliau adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda...

Anda pasti tidak asing lagi dengan judul diatas... Ya... itu adalah semboyan pada logo Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.... Semboyan ini adalah ciptaan Ki Hajar Dewantara... Sebenarnya secara lengkap semboyan tersebut berbunyi... “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. (“di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan”)...

Dari semboyan ini, mungkin bisa saya simpulkan seperti ini... menjadi seorang “pendidik” itu bukan sekedar “ngajarin” teori ‘doang”... lebih dari itu seorang “pendidik" harus bisa memberi contoh atau teladan dalam “praktek”... seorang “pendidik” juga harus menjadi “motivator” bagi anak didiknya untuk maju dan mandiri...
Nah biasanya kita menyamakan "PENDIDIK" dan "PENGAJAR".... kelihatannya "mirip" tetapi ternyata menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berbeda...
"PENGAJAR" berasal dari kata ajar yang artinya petunjuk kepada orang supaya diketahui (dituruti). Jadi pengajar adalah orang yang membuat orang lain mengerti, atau paham akan sesuatu. Sedangkan "PENDIDIK" yang kata dasarnya "didik" memiliki arti memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.... Nah kalau "PENDIDIKAN" artinya proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.
Wow... jadi ternyata didik; mendidik; pendidikan adalah hal yang terkait dengan "ahlak" atau "budi pekerti", bukan hanya melulu mengenai sebuah materi pelajaran.

Biasanya "PENDIDIK" disebut juga "GURU"... Masih ingat pepatah berikut ini ?? .... “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”... menurut “wikiquote” pepatah ini bisa berarti : 1. murid biasanya bulat-bulat mencontoh gurunya, maka guru sebaiknya jangan memberikan contoh yang buruk. 2. menjadi tokoh panutan di masyarakat/pejabat negeri hendaknya jangan sampai memberi contoh yang buruk. 3. jika seorang pemimpin berbuat buruk, maka pengikut-pengikutnya akan berbuat lebih buruk daripada yang dilakukan oleh pemimpin tersebut.

“Guru” dalam bahasa Ibrani disebut “Rabi”.... Yesus pernah menegor dengan keras para ‘Rabi”... Kata Yesus :” "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil "Rabi". Tetapi kamu, janganlah kamu disebut "Rabi" karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara..”

Wow... “pedas” sekali kata-kata Yesus diatas... Dia mengkritik Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang disebut sebagai “rabi”... “guru”... mereka hanya mengajarkan “teori” tetapi tidak “ing ngarso sung tulodo” (“di depan memberi contoh”).....

Ayo... siapapun kita yang dsebut “PENDIDIK”.... apakah kita sebagai “orang tua”, “orang yang lebih tua”, “Presbiter”..., “Guru sekolah”...., “Guru sekolah minggu”...... jangan lupa “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.... "di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan”....

Selamat "HARDIKNAS"

vzp@bus-cgk-dpk-020514

1 Mei 2014

”LABOUR”

Wow… hari ini tanggal 1 Mei 2014 kalendernya berwarna merah… alias hari libur nasional… asyik… bisa istirahat seharian…. Inilah pertama kalinya di Indonesia Hari buruh ditetapkan sebagai hari libur…. Setiap tanggal 1 Mei disebut sebagai Hari Buruh atau sebutan kerennya : “MAY DAY”…. Mungkin disebut demikian biar mirip dengan kata “mayday” yang merupakan kata standar yang selalu diucapkan saat mengalami keadaan darurat, “mayday” yang berasal dari bahasa Perancis "venez m'aider" yang berarti "datang membantu saya"… Nah kelihatannya sebutan “MAY DAY” untuk Hari Buruh itu juga dimaksudkan agar ada perhatian khusus kepada nasib para buruh….
Mungkin anda bertanya kenapa tanggal 1 Mei ditetapkan sebagai hari buruh…???? Ternyata tanggal itu diambil dari peristiwa bersejarah pada tanggal 1 Mei 1886 di Chicago, Illinois Amerika… Pada saat itu ada gerakan buruh yang merambat hampir ke seluruh amerika untuk memprotes waktu kerja mereka yang saat itu berkisar 12 sampai 16 jam sehari… Pada saat itu buruh “hidup untuk bekerja” bukan “bekerja untuk hidup”… Kaum kapitalis atau pemilik modal “memanfaatkan” kaum buruh untuk “keuntungan” yang besar bagi mereka… tanpa memperhatikan nasib buruh….
Ternyata Tarik-menarik antara “buruh” dan “pemilik modal” serta “pemerintah” sebagai wasitnya tidak pernah berakhir sampai hari ini….. Mudah-mudahan Tarik-menarik ini tetap berada dalam kondisi yang wajar sehingga tidak terjadi huru-hara yang bisa menggangu “ketentraman” hidup bersama….

“LABOR” berarti “work” atau bekerja…. Sedangkan “BURUH” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia” adalah “orang yg bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah”…
Kalau saya perhatikan dari tahun ke tahun… dalam setiap perayaan “may day” selalu ada saja “tuntutan” dari buruh…. Secara sedehana saya melihatnya sebagai adanya ketidak puasan para buruh terhadap berbagai kondisi yang dirasakan…. Ya… itu hak buruh untuk menyuarakan suara hati nurani mereka…. Dilain pihak sepertinya kita juga harus belajar bahwa semua keinginan kita tidak serta merta bisa dipenuhi karena tentunya ada keterbatasan-keterbatasan yang juga harus dipikirkan….
Mungkin yang paling penting adalah “kejujuran” dari semua pihak…..

Hmmmm…. “kerja” adalah sesuatu yang penting dalam hidup ini… karena dari kerja kita dapat “duit” untuk menghidupi keluarga kita… Tanpa disadari… kadangkala “kerja” hampir menyedot seluruh waktu hidup kita…. Bicara mengenai “kerja” atau “LABOR”…. Jadi ingat sebuah ungkapan dalam bahasa latin yang terkenal… : “ORA ET LABORA” atau “Berdoa dan Bekerja”…. Ungkapan ini mengajak kita untuk tidak hanya memfokuskan diri pada “pekerjaan” tetapi juga pada hal “berdoa”…. Bekerja itu sesuatu yang memang penting untuk kehidupan… tetapi jangan lupa bahwa “berdoa” adalah sesuatu yang “terpenting” di dalam hidup ini…. Bukankah “doa” merupakan “napas” hidup orang percaya… itu artinya melalui “doa” kita bisa berdialog dan berkomunikasi dengan Tuhan…. Darinya kita mendapatkan petunjuk dan kekuatan dalam melangkah di kehidupan ini…..
Kata Yakobus : ”doa orang benar bila didoakan dengan yakin, besar kuasanya. Dan tiap doa yang lahir dari iman, berkuasa menyelamatkan”
Lain lagi kata Frances J. Crosby lewat lagu ciptaannya : …
------
’Tis the blessed hour of prayer, when the tempted and tried
To the Savior who loves them their sorrow confide;
With a sympathizing heart He removes every care;
What a balm for the weary, oh, how sweet to be there!

Refrain:
Blessed hour of prayer, blessed hour of prayer,
What a balm for the weary, oh, how sweet to be there!

(Gita Bakti 298 bait 3)
Waktu DOA yg kudus, dicobaan berat
Pada juruslamat ku percaya teguh
IA pasti memberi kelepasan penuh
Lipur hati terluka…oh, betapa indahnya

Reff:
Waktu DOAku… saat yg kudus
Lipur hati terluka oh betapa indahnya
----------

Akhirnya… untuk semua “pekerja”… selamat hari buruh… selamat bekerja… Jangan lupa selalu “berdoa”… “Bekerja” itu penting…., tetapi “berdoa” itu terpenting…

vzp@home-010514

30 April 2014

“BUNTU”

Waduh.... hari ini lagi “ngga” ada ide mau nulis apa.... hmmm lagi “buntu” nih pikiran.... tapi karena harus “latihan” nulis setiap hari... ya “udah” judulnya disesuaikan aja dengan “pikiran”.... ya itu... “buntu”.... hehehehe....
Kalau sudah “buntu” ya... pasti bikin kesal.... karena “ngga” tau mau “ngapain”... Memang hampir dapat dipastikan “buntu” itu pasti “ngeselin”.... coba “aja” ketemu jalan “buntu”... pasti “ngumpat” karena harus berbalik.. apalagi jalannya kecil.... hufff... menyebalkan.... Begitupun kalau punya usus “buntu” yang kebetulan lagi sakit... du.. du... pasti “nyesek”.... memang “ngga” enak kalau lagi “buntu”.....

Kata orang-orang pintar... kalau lagi “buntu”... harus usahakan terus melakukan sesuatu... pasti ada saja jalan keluar..... Misalnya kalau lagi nulis... lalu tiba-tiba pikiran kita “buntu” ... alias “ngga” ada ide... ya stop saja dulu... keluar sebentar ... lalu ngobrol sambil menghirup udara segar... pasti nanti ide datang dengan sendirinya....

Nah kadang hidup ini seperti menemui jalan “buntu”... sudah berusaha kesana-kesini... tetap "aja" ngga ada hasilnya....semua usaha seakan “buntu”.... ya jangan menyerah... jangan stop... Masih ingat kan... dengan Oom Thomas Alva Edison... itu tu...si penemu beberapa barang berharga... dia yang menemukan Gramofon, lampu listrik dan proyektor untuk film-film kecil..... walaupun kelihatannya jenius.... tetapi bukan berarti dia tidak pernah gagal alias menemukan jalan “buntu”..... Salah satu kata bijak dari beliau adalah : “Saya tidak patah semangat, karena setiap usaha yang salah adalah satu langkah maju”.... Wow keren kan... bayangkan kalau dulu dia patah semangat mungkin tidak akan ada "music player"... ipod... “kaya” sekarang.... juga mungkin kita akan hidup dalam kegelapan... karena tidak ada lampu listrik yang ditemukan.... Hebat ya.... gara-gara “ngga” patah semangat banyak hal berharga yang bisa ditemukan.... Hmmm setiap jalan ”buntu” yang ditemui... adalah suatu langkah maju.....

Masih ingat lagu ini ???...
-------
ku tahu Tuhan pasti buka jalan,
ku tahu Tuhan pasti buka jalan,
asal ku hidup suci, tidak turut dunia,
ku tahu Tuhan pasti buka jalan.

ku tahu Tuhan dengar doa saya,
ku tahu Tuhan dengar doa saya,
asal ku hidup suci, tidak turut dunia,
ku tahu Tuhan dengar doa saya.
---------
Hmmm... asal saja hidup kita benar.... asal saja kita usahakan sebuah kebajikan.... asal saja yang dilakukan seturut kehendakNya.... pasti Dia akan buka jalan.... tidak akan ada jalan “buntu” untuk sebuah kebajikan....

Ada lagi nih... sebuah lagu rohani yang patut dinyanyikan dikala lagi "buntu" dalam hidup ini... DIA BUKA JALAN... tau kan lagunya....
--------
Dia buka jalan, saat tiada jalan
Dengan cara yang ajaib Dia buka jalan bagiku,
Dia menuntunku dan memeluk diriku,
Dengan kasih dan kuasa-Nya
Dia buka jalan, Dia buka jalan

Di belantara Dia tetap menuntunku
Sungai di gurun kutemui
Langit bumi 'kan lenyap, tapi firman-Nya tetap
Saat ini Dia buka jalan
--------

Eeehhh.... ternyata tulisan ini bisa selesai..... coba tadi saya tetap merasa “buntu” dan tidak mulai menulis... pasti “ngga’ jadi tulisan ini.... Hmmmm.... "tidak akan ada jalan “buntu” untuk sebuah kebajikan...." karena Dia selalu buka jalan saat "kebuntuan" melanda....

"BUNTU" ??????? No way..... Let's do it....

vzp@bus-cgk-dpk-300414

29 April 2014

“MAESTRO”

Kemarin, dunia seni Indonesia kembali kehilangan seorang “MAESTRO” di bidang seni musik... Dalam usia 75 tahun “Idris Sardi” sang “Maestro” biola Indonesia dipanggil pulang Sang Ilahi di Rumah Sakit Melia Cibubur karena “komplikasi” berbagai penyakit.... Beliau adalah pemain biola yang handal sekaligus seorang komposer yang piawai... Karya-karya nya mendapatkan berbagai penghargaan... Tidak salah jika gelar sebagai “MAESTRO” diberikan kepadanya...
Untuk meniti sampai ke puncak karirnya sebagai "MAESTRO"... almarhum memulainya sejak dini... Dimulai di usia 6 tahun Idris mulai mengenal biola... pada saat usia 10 tahun muncul di depan publik pertama kali di Jogyakarta... dan karena sangat piawai memainkan biola, Idris diterima di Sekolah Musik Indonesia (SMIND).... di sekolah prestasinya luar biasa... Pada saat berusia 14 tahun dia sudah menjadi “concert master” dalam orkestra siswa “SMIND” yang dipimpin “Nicolao Varvolomejeff”...
Dia pernah dilatih oleh 2 orang guru biola asal Hungaria... di Jogyakarta dilatih oleh “George Setet” dan sewaktu hijrah ke Jakarta dia dilatih oleh “Henri Tordasi”.
Untuk menjadi seorang ‘MAESTRO” bukan saja memiliki bakat yang hebat... tetapi Idris juga menjalani “pelatihan” yang serius dan "panjang" dari guru-guru yang memang memiliki kemampuan memainkan biola..... Untuk menjadi seorang “MAESTRO”... harus didukung dengan semangat dan disiplin yang tinggi... dan tentu "kesetiaan" dan “pengabdian” yang total dalam bidangnya.....
Kita pasti "berdecak" kagum melihat prestasi "Idris Sardi".... mungkin ada yang ber-andai-andai untuk menjadi seperti sang "MAESTRO"...

Kata “MAESTRO” berasal dari bahasa Italia yang berarti “pakar” atau “guru”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia arti “MAESTRO” adalah “orang yg ahli dalam bidang seni, terutama bidang musik, seperti komponis, konduktor dan lain-lain.... So... “Maestro” adalah seorang yang “ahli”.... sedangkan kata “AHLI” dijelaskan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai “orang yg mahir, paham sekali dalam suatu ilmu (kepandaian)”....

Kita “ngga” perlu berkecil hati karena mungkin tidak memiliki kemampuan “sekaliber” Idris Sardi yang menjadi seorang “MAESTRO” biola Indonesia.... atau seorang Affandi yang dianggap sebagai “MAESTRO” seni lukis Indonesia... karena memang tidak semua orang dikaruniakan kemampuan yang sama... Yang harus kita pahami mungkin adalah bahwa semua orang diberikan kemampuan atau biasanya disebut “TALENTA” dalam porsi dan “KAPASITAS” yang berbeda... Itu berarti bahwa “kita semua” memiliki “TALENTA” masing-masing..... tidak perlu menjadi “orang lain” karena jauh lebih baik menjadi “diri sendiri”....

Nah... masih ingat perumpamaan tentang “TALENTA” ???....Pasti masih ingat dong.... Seorang yang hendak bepergian ke luar negeri mempercayakan hartanya kepada para hambanya.... Ada hamba yang mendapat 5 talenta..., ada yang mendapat 2 talenta dan ada yang hanya 1 talenta... Mengapa ada yang 5, ada yang 2 dan ada yang hanya 1 talenta????... disebutkan karena diberikan sesuai dengan “kesanggupannya”.... Setelah tuan mereka pergi, maka hamba yang mendapat 5 “talenta” pergi dan “menjalankan” uang itu dan memperoleh laba 5 “talenta”... begitupun dengan yang mendapatkan 2 “talenta” melakukan hal yang sama dan mendapatkan laba 2 “talenta”... Wow... bukankah itu berarti ke dua hamba ini, keuntungannya mencapai 100%.... pasti didapatkan dengan “usaha”, “kerja keras” dan “disiplin”..... Nah.... sedangkan hamba yang menerima 1 “talenta” tidak melakukan seperti kedua hamba yang lain, tetapi menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya... Lalu ketika Tuan mereka kembali dan meminta pertanggung-jawaban, maka datanglah hamba yang menerima 5 “talenta” lalu menyerahkan 10 “talenta” sesuai hasil dari usahanya begitupun dengan hamba yang menerima 2 “talenta datang dan membawa 4 “talenta sesuai hasil yang diperolehnya.... Nah.... kalau kita perhatikan baik-baik... jawaban yang diberikan tuannya kepada kedua hamba ini sama persis... tuan mereka berkata :” Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan "setia", engkau telah "setia" memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu”...... Hal sebaliknya terjadi dengan hamba yang menerima 1 “talenta”... dia mengembalikan 1 “talenta” yang diberikan tuannya sambil bersungut-sungut dan mengatakan tuanya “kejam”... lalu tuannya menjawab :” Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu”

Wow... rupanya penghargaan yang diterima oleh para hamba bukan berdasarkan berapa besar “talenta” yang diberikan, tetapi berapa besar “kesetiaan” yang didedikasikan oleh para hamba tersebut...

Janganlah menghitung-hitung berapa besar “talenta” yang diberikan kepada kita.... apalagi membanding-bandingkanya dengan “talenta” yang diterima orang lain....... Adalah lebih baik bila kita manfaatkan dan gunakan “talenta” yang diberikan itu seberapapun besarnya dipercayakan kepada kita... kita manfaatkan dan gunakan dengan penuh “kesetiaan”... dengan “usaha” dan “kerja-keras”... dengan penuh “disiplin” dan dengan “penyerahan” penuh kepada Sang Tuan... maka percayalah... Sang Pemilik “TALENTA” itu niscaya akan berkata kepada kita :” :” Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan "setia", engkau telah "setia" memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar..... Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu”....

Hmmmm bagi orang-orang yang “setia”.... tanggung-jawab akan diberikan semakin besar.... dan jangan kaget saudaraku... jika suatu saat (atau mungkin sudah terjadi sekarang....) anda diberikan tanggung-jawab sebagai seorang “MAESTRO” dalam bidangmu... karena anda setia dalam perkara-perkara yang “kecil”.....

Selamat menjaga kesetiaan dalam perkar-perkara anda saat ini... Dan selamat menikmati... kalau diberikan tanggung-jawab yang semakin bertambah.. bahkan tidak mustahil diberikan tanggung-jawab sebagai seorang “MAESTRO”..... Kata kuncinya adalah "KESETIAAN"....

vzp@bus-cgk-dpk-290414

28 April 2014

"FEAR FACTOR"

Pasti anda tidak asing dengan judul tulisan diatas... benar.... "Fear Factor" adalah salah satu "reality game show" ditelevisi. "Game show" ini pertama kali diadaptasi oleh NBC dari acara televisi di Belanda yang bertajuk "Now or Neverland" Acara televisi dengan hadiah yang menggiurkan ... $50.000 dirancang agar semua peserta harus melewati rintangan-rintangan yang cukup "extreme" dan memacu "adrenalin" peserta maupun penonton.... Dalam setiap "Show" Peserta biasanya terdiri dati 4 tim dimana masing-masing tim terdiri dari 2 orang yang berpasangan... mereka bersaing untuk melewati tantangan dan rintangan yang diberikan... karena tantangan dan rintangan yang diberikan cukup "extreme" sehingga kadang kala sangat "menakutkan" bagi semua peserta bahkan tidak jarang sanggup membuat penonton ikut tegang....
Kalau kita perhatikan... walaupun semua tantangan dalam "FEAR FACTOR" sangat "extreme" dan "menakutkan".... tetapi hampir semua peserta selalu berusaha melewati tantangan-tantangan tersebut... coba anda bayangkan... kadang ada tantangan yang mengharuskan peserta makan makanan yang "extreme" yang mungkin saja sangat "menjijikkan"... atau peserta harus melewati tantangan di tempat yang sangat tinggi dengan hanya menggunakan alat bantu ala kadarnya... hmmm "menyeramkan... dan menakutkan... tetapi hampir semua peserta tetap melewatinya walaupun dengan persaan yang agak "cemas"... dan "menakutkan"... Nah... Kira-kira apa ya rahasianya...????
Saya menduga rahasianya karena penyelenggara acara "menjamin" bahwa semua tantangan yang ada "aman" dan "sehat" karena sudah dilakukan uji-coba dan menggunakan peralatan keselamatan... so.. dijamin aman dan sehat... Nah... karena ada jaminan "keamanan" dan "kesehatan" makanya semua peserta tetap mau melewati setiap tantangan walaupun itu "menakutkan" dan "menjijikkan"... Saya yakin kalau hal itu dilakukan tanpa ada jaminan... pasti tidak akan ada peserta yang mau ikut acara ini... walaupun dengan hadiah yang menggiurkan sekalipun....
Nah... ternyata "ketakutan" itu.. bisa "dikalahkan" atau "ditaklukkan" jika ada"jaminan keamanan"....

Cobalah kita tengok sebentar kebelakag... bukankah dalam menjalani hidup ini... seringkali kita harus melewati tantangan... dan hambatan... yang kadangkala terlihat "extreme" seperti halnya di "Fear Factor"...???.. Mungkin saja sampai hari ini kita sedang mengahdapi "ketakutan" karena beban atau masalah hidup yang sedang kita "pikul"...

Hmmm.. ternyata hal yang samapun terjadi pada para murid Yesus... mereka sangat "ketakutan" saat hambatan yang sangat "extreme" harus mereka hadapi... betapa tidak.. "Rabi"... "Guru"... "Pemimpin" mereka harus mati dengan cara yang memalukan... di salib seperti para "penjahat kelas kakap"... Mereka takut akan kepastian masa depan mereka..... mereka kehilangan "semangat" dan "selera" hidup... karena "ketakutan"....

Nah... dalam ketakutan yang seperti itu... tiba-tiba saja Yesus yang telah bangkit hadir ditengah-tengah mereka.... Dia menyapa mereka yang sedang takut : "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."
Kehadiran dan sapaan ini memberikan "jaminan" kepada para muridNya... bahwa mereka tidak sendirian dalan perjalanan pelayanan kededepan... apalagi sapaan ini dikuti dengan hembusan dari Yesus sambil berkata : "Terimalah Roh Kudus".... "Ketakutan" para murid Yesus sekejap menghilang dan berganti "semangat" untuk melayani... semuanya karena mereka tahu ada "jaminan" dari Sang "Guru"... Sang "Rabi"... dan Tuhan mereka yang sudah bangkit....

Saudaraku... kalau masih ada "hambatan" dan "rintangan" yang menyebabkan anda menjadi "ketakutan" dalam menjalani hidup ini... Ingatlah bahwa Dia yang sudah bangkit adalah "jaminan" keselamatan" bagi semua orang percaya..... bagi anda dan saya....

Selamat menghadapi "hambatan" dan "rintangan" dengan keyakinan bahwa kita bisa menghadapinya karena ada "jaminan" dari Dia yang sudah bangkit....

vzp@home-280414

27 April 2014

"BENANG RAJA"

Membaca judul diatas pasti anda bertanya-tanya apa sih artinya "BENANG RAJA" ??? Apakah yang dimaksud adalah merek dagang benang ? Ataukah salah satu Jenis benang ???... Hmmm coba saja anda "searching" di mesin pencari "google"... ternyata ada sedikit penjelasan mengenai "BENANG RAJA".... Salah satu hasil pencarian adalah "BENANG RAJA FLAG"... ini adalah sebutan untuk bendera "RMS" -republik maluku selatan-..... Eitsss.. jangan salah sangka ya... bukan ini yang mau saya bahas dalam tulisan ini.... Nah.... biar "ngga" melebar tulisan ini... mungkin kita langsung menuju referensi yang lebih netral... yaitu "KBBI" Kamus besar bahsa Indonesia... langsung saja cari kata "benang" disitu kita akan menemukan banyak kata yang dimulai dengan "benang".... Nah.... salah satu kata yang dijelaskan disitu adalah "benang raja"... artinya singkat dan jelas yaitu "pelangi" atau "bianglala".....

Nah... ternyata orang Ambon benar sekali , mereka selalu menggunakan "benang raja" untuk menyebut "pelangi"..... Asal-usul mengapa sampai disebut "benang raja" saya cari-cari... tetapi belum ketemu... Yang saya tahu... waktu kecil.. kata orang tua-tua.... disebut "benang raja" karena katanya pelangi itu seperti benangnya Tuhan atau Raja... makanya pelangi disebut sebagai "benang raja"... Benang warna-warni yang indah yang tergambar di langit dengan jarak yang sangat jauh.... itulah "benang raja"....
Dalam bahasa Inggris "benang raja" atau "pelangi" disebut "Rainbow"... yang menurut "wikipedia" tidak lain adalah busur spektrum warna besar berbentuk lingkaran yang terjadi karena pembiasan cahaya matahari oleh butir-butir air hujan. Ketika cahaya matahari melewati butiran air hujan, ia membias seperti ketika menembus prisma kaca dan keluar menjadi spektrum warna pelangi

Orang Lio (Flores NTT), menyebut "pelangi" sebagai " Nipamoa"... Nipa artinya Ular dan Moa berarti Haus (kehausan)... mereka melihat "Nipamoa" sebagai fenomena alam yang luar biasa sehingga dipercaya merupakan berkah dari Yang Maha Kuasa untuk kesuburan tanah disekitar.....

Masihkah anda ingat lagu "pelangi-pelangi" yang sangat "beken" di kalangan anak "TK" sepanjang masa...... silahkan disimak... semoga kenangan indah sewaktu di "TK" terbayang kembali..... hehehe..

------
Pelangi pelangi
Alangkah indahmu
Merah, kuning, hijau
Di langit yang biru

Pelukismu Agung, siapa gerangan
Pelangi, pelangi, ciptaan Tuhan
-------

Nah... lalu apa kata "Pelukis Agung" tentang "pelangi".... Allah berfirman: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi.... Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup.... Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi."

Hmmmm... ternyata "pelangi" bukan sekedar peristiwa alam yang disebabkan oleh terurainya sinar matahari yang mengena butiran air.... tetapi lebih daripada itu.... "pelangi" adalah busur yang diletakkan Allah di awan sebagai tanda "perjanjian" antara Allah dan manusia....bahwa tidak akan ada lagi "air bah"... Dengan kata lain... boleh dikatakan "pelangi" adalah tanda "kesetiaan" Allah akan janjiNya..... Benarlah lagu "pelangi-pelangi"... yang mengatakan bahwa Tuhan adalah "Pelukis Agung" yang melukis "pelangi"....

Hmmm... "Benang Raja"... benangnya Tuhan.... busur yang ditempatkan Tuhan di awan... tanda Allah setia dengan janjiNya....
Kalau Allah masih tetap setia dengan janjiNya... masihkah kita tetap setia kepadaNya....????

Selamat Hari Minggu...

vzp@home-270414